Friday, December 1, 2017

R.I.P Perfeksionisme

Menjelang akhir tahun begini kurang afdol rasanya jika tidak disertai dengan hawa dingin dan langit yang semakin ke sini terlihat semakin kelabu saja. Persis seperti diri ini yang tengah berkutat dengan tugas akhir.

Haha, jangan khawatir, kali ini aku tidak kabur. Aku berusaha mengerjakannya sebisaku, meskipun sebenarnya aku nggak yakin dengan hasilnya. Malah, aku merasa nggak ada kebanggaan atau rasa cinta terhadap tugas akhirku ini. Aku malu jika harus memperlihatkannya kepada orang lain.

Katakan aku terlalu keras pada diriku sendiri, atau terlalu rendah diri, atau apalah. Tapi aku merasa begini karena aku tahu (mungkin) sebenarnya aku bisa mengusahakan tugas akhir ini sesempurna yang aku inginkan, dan untuk mewujudkannya, aku butuh banyak waktu. Sedangkan waktu yang aku punya terbatas.

Itu juga berpengaruh dalam sikapku menerima komentar orang lain soal karyaku ini, sebanyak apapun komentar positif yang kuterima, yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Padahal ya, sebenarnya pujian itu nggak banyak membantuku. 

Aku hanya ingin semua ini selesai. Ya, kurasa untuk sekarang ini satu-satunya bentuk cinta pada karya terakhir dalam sejarahku mengenyam bangku kuliah adalah dengan tetap mengerjakannya sampai selesai.

Sunday, October 15, 2017

Screencap Saturday: Estetika Masa Muda Persembahan NCT Dream

Yo back at it again with Screencap Saturday~

(more like Screencap Sunday bcs u kno)

Bagi kalian yang berharap segmen (?) ini sudah mati, bersiaplah kecewa karena ya sebenarnya kami masih ada. WE'RE BACK! Yea. Untuk ke depannya semoga bisa lebih konsisten dan teratur aja ya haha. Gimana sih, kayaknya susah banget update barang seminggu sekali aja.

But here we are! Minggu ini yang jadi korban segmen adalah salah satu grup K-pop bentukan SM Entertainment yang.... Yah, relatif masih baru lah, berisi para pemuda belia, yang senantiasa mengusung konsep nan cerah ceria penuh kepolosan dan semangat kemudaan, kita tampilnya: NCT Dream, dengan video musiknya yang berjudul Chewing Gum.

Seperti layaknya K-pop, tingkat ke-catchy-an lagunya tak perlu diragukan lagi, bahkan sejak intronya. Tema video menggambarkan jahilnya anak-anak, walaupun nggak nyambung sama liriknya yang mendeskripsikan semacam perasaan terhadap gebetan. Videonya kental dengan warna-warna pastel-neon dan sentuhan CGI di beberapa adegannya, tak ketinggalan pilihan wardrobe yang tabrak-tabrak ala fesyen taun 80-90an. Tapi jatuhnya ya cocok-cocok aja buat mereka tuh.








 
















Thursday, September 21, 2017

Mengenai Gacoan Baru

Baikla. Sebetulnya alasan mengapa saya tertarik sama gacoan satu ini memang bisa dibilang dangkal: dia berperan jadi Sanada di Tenimyu season 3.

Waktu pertama kali ada yang posting informasi soal cast Rikkai season 3 ini, tertera beberapa foto dari akun twitternya, dan kesan pertamanya adalah "HAH INI OPPA DARI MANA???" dan "CUTE BEGINI KOK BISA JADI SANADA???" Suuuuuuuumpah. Soalnya di foto itu dia terlihat bling-bling, beneran kayak member boyband Korea. Sampai suatu ketika website Tenimyu akhirnya memajang foto resmi di mana dia sudah dalam wujud perannya sebagai Sanada.

Okay.

Lengkap dengan video perkenalan. Suaranya ternyata cukup dalam dan bisa berubah lebih garang.

Ooooooookay.


Meskipun demikian, tetap saja aneh rasanya, mungkin karena belum bisa move on dari Sanada versi si mz (yang IMHO lebih dapet fierce-nya). Terbayang-bayang fotonya yang oppa-ish tadi sih, kayak "njeglek" gitu imejnya.

(Sebelum saya sadar kalu justru disitulah poin dari seorang aktor -_- )

Sempet ngepoin twitternya sekilas dan akhirnya memutuskan untuk follow, karena, ya, awalnya buat ngasih respek gitu lah, haha, masa yang memerankan karakter favorit gak di follow sih. Penasaran juga sama update keseharian dia, lagian siapa tau nanti ternyata Sanada versinya cucok sama selera saya. Nggak berapa lama timbul keinginan iseng buat ngubek-ngubek foto lamanya, samasekali nggak ada kesulitan buat nemu foto yang bagus karena dia memang cakep dan doyan banget upload selfie.

Eh. dilihat-lihat lucu juga. Cupid bow-nya on point, ditambah ada lesung pipi yang samar. Hidungnya mancung. Kulitnya bersih banget. Alisnya tebal menukik. Wih kupingnya ditindik ya. Hem. Ekspresi wajahnya bisa kayak imut polos gitu ya, gemesyin, bikin pengen nggambar. Terus menggali dan akhirnya menemukan beberapa fakta yang bikin makin kesengsem..... SEKALIGUS MENIMBULKAN SERIOUS ENVY. Kok bisa?

1. Major in psychology.

2. D R U M M I N G  S K I L L  O N  P O I N T . Dia cerita kalo dia memang belajar main drum sejak SD.

3. HE'S GOT STYLE. He goes with casual-smart look, minimalist, neutral colors, you name it.

4. 185 cm in height. Kakinya panjang hhhhhh. Postur tubuh + wajah yang mendukung + style on fleek = triple ok emoji.

5. His long-distance running ability. Pernah lari sampe 35 km katanya. Nganggur amat :'

Selain itu, pembawaannya juga admirable. Nggak neko-neko. Eh pernah sih ada videonya dia pasang ekspresi aneh gitu, tapi ya itu doang, nggak sampe alay kayak si mz. Malah, salah satu rekan sesama pemain stageplay-nya bilang pas pertama kali ketemu, dia itu punya aura yang bisa bikin tenang. Pada satu kesempatan lain dia juga pernah menenangkan salah satu grupnya yang panik gegara telat dateng. Wihhh, so heartwarming nggak tuh

Sifatnya yang kalem dan laid-back itu membikin dia bully-able di lingkaran pergaulannya. Wakakak. Sering jadi sasaran bully temen-temennya (yang notabene lebih muda daripadanya) dan reaksinya itu lucu. Nggak marah, malah ngikut bercanda juga. Haduh.

Di kepala saya, terbentuk imejnya sebagai mas-mas kasual smart yang dewasa dan kalem tapi bisa jadi cute dan gemay dalam waktu bersamaan. Wenaque.


Ya itulah gacoan saya. I'm rooting for you mas.
(Aneh sih manggil dia "mas" karena kita sepantaran, lagian dia keliatan lebih muda hm)

Ekstra:

Sans megane karena malash~

Friday, September 15, 2017

Being confident is either you do something that make you feel confident or just try to be confident with things you already have

Monday, August 14, 2017

Bagaimana kita bisa pergi tidur dengan wajar,
dengan pikiran bahwa kita akan bangun seperti biasa keesokan harinya

Sementara urusan hidup-mati ini
ada di tangan Tuhan?

Sunday, June 18, 2017

Selamat Panjang Umur dan Ba ha gi a

Ulangtahun itu,

antara kamu bisa merutuki bertambahnya usiamu yang berarti semakin dekatnya kamu menuju kematian,

atau,

mensyukuri kenyataan bahwa Tuhan telah memberimu satu tahun lagi kesempatan untukmu hidup di dunia.

Saturday, June 17, 2017

Berita Duka (Bagiku Seorang)

Alkisah, seorang anak kelas 10 SMA sedang gemar-gemarnya memotret. Berhubung ponselnya nihil kamera, dia selalu meminjam ponsel bapaknya untuk jepret-jepret. Jika di sekolah, dia numpang di ponsel temannya. Melihat ini, orangtuanya yang setengah penasaran-setengah jengkel (karena ponselnya dipinjem melulu kan) akan kesenangan baru si anak, dengan sangat pengertiannya, murah hatinya, dan suportifnya, kemudian membelikan si anak sebuah kamera poket di hari ulangtahunnya. Tak tanggung-tanggung, kamera itu adalah Fujifilm A230. Gembiralah hati si anak. Sejak saat itu, ia dan kamera peraknya menjadi tak terpisahkan, kecuali saat kamera itu harus di-charge baterenya, tentu saja.
.
.
.
.
.
.
Tapi itu cerita 8 tahun yang lalu. Sekarang, kamera itu sudah menemui ajalnya. Tiap kali tombol shutternya dipencet, bukannya menangkap gambar, malah mematikan powernya. Mau diperbaiki pun, hem, sepertinya akan lebih baik kalau saya beli kamera yang baru, yang bahkan mungkin spesifikasinya lebih bagus, dengan harga yang sama.

Meskipun demikian, bohong kalau saya tidak merasa sedih. Itulah satu-satunya kamera yang menemani perjalanan saya dalam kegiatan menangkap berbagai momen. Jelek-bagusnya saya dalam jepret-menjepret, mungkin hanya dia yang tahu. Smartphone? Ada sih, tapi keterbatasan fitur dan spesifikasinya jelasssssssssssss takkan mampu mengimbangi almarhum kamera pocket---meskipun kamera itu sendiri juga spesifikasinya nggak spektakuler amat.

Sudah ah sedihsedihnya, lebih baik saya kasih lihat semua kebaikan yang saya terima darinya.

   


   
Resinpis :'

2016

1. Ikut volunteer

2. Dipertemukan dengan girlcrush #1, Claire Boucher a.k.a Grimes. She's very relatable.

3. Bisa merasakan varian baru teh TWG, Silver Moon Tea, yang rasa dan aroma berry-nya kuat.

4. (Akhirnya) Lulus matakuliah DKV Konseptual dengan nilai A :'D

5. Jadi anak magang di agensi desain~

Saturday, January 14, 2017

Siapa sangka, aku bakal menelan mentah2 sumpahku untuk jauh-jauh dari yang namanya "mengkonsumsi junkfood resto cepat saji"
Sejak kecil, aku tidak dibiasakan oleh orangtuaku makan makanan junk food. Lagipula, susah menemukannya di kota kecil kampung halamanku sono. Harganya tak sepadan dengan nutrisi yang didapat pula, jadi, ya orangtuaku tidak merasa rugi sudah "mengasingkan"-ku dari makanan macam demikian.

Namun, kehidupan kuliah mengajarkanku untuk mengibarkan bendera putih terhadap junkfood. Karena akan ada saat dimana aku harus berakrab-akrab dengannya, mau tak mau, suka tak suka.

Coba pikir : kalau kau bisa hangout (baca : ngerjakan tugas kuliah bersama teman-teman) di tempat strategis, ber-ac, selalu menyediakan makanan, punya stopkontak, free wifi, dan buka 24 jam...... Tempat apa yang kau pilih?

Jawabanku : resto fastfood. Kenapa? Simak checklist di bawah ini.
  • Tempat strategis
  • Ber-ac
  • Punya stopkontak (sehingga kamu bisa numpang isi ulang batere laptop dan HP. bahkan, bisa bawa ekstender milik sendiri untuk dipakai beramai-ramai)
  • Free wifi (untung-untungan sih)
  • Selalu menyediakan makanan (meski berupa junk food dan harganya bukan main)
  • Buka 24 jam (sehingga kamu bisa nongkrong dari pagi sampai pagi lagi, walau hanya memesan segelas float atau eskrim sesekali dengan bonus tatapan dari para karyawan yang mungkin-sebenarnya-berniat-mengusirmu-namun-apa-daya)
Bukannya kami tak punya pilihan---atau ya, sepertinya kami memang tak punya pilihan. Mengerjakan tugas kelompok berarti ada resiko ribut-ribut, dan kami butuh tempat yang lebih ribut untuk ditambahi dengan keributan dari kami saat tengah malam. Dan melakukan itu di rumah teman, jelas bukan pilihan yang bijaksana. Ada keluarga dan tetangga yang membuat kami segan.

Kepada para pramusaji, terimakasih untuk tidak mengusir kami, atau lebih tepatnya sudah menahan diri untuk tidak mengusir kami.

Dan saat pulang, aku masih bisa mencium aroma ayam goreng krispi yang menempel di jaketku.


Suspiria

"Suzy, seorang gadis Amerika, jauh-jauh merantau ke Jerman untuk tinggal dan belajar Balet di Akademi Tari Tanz. Tapi siapa sangka, selain menari, Suzy (dan teman-temannya) juga mengalami berbagai kejadian aneh: belatung yang berjatuhan dari atap asrama, hilangnya beberapa murid, hingga suara langkah-langkah kaki misterius yang terdengar saat tengah malam. Ketika teman sekamarnya, Sara, menghilang, akhirnya Suzy memberanikan diri untuk menyelidiki misteri yang ada di Akademi"

Ada sesuatu yang mengusik tentang film ini, sejak saya iseng browsing Suspiria di Google Image. Saya juga sudah menyempatkan diri melihat trailernya dan apaan coba, film ini lumayan cringe-able dari segi akting dan "special effect"(or lack thereof). Beberapa eksekusi adegan dan scriptnya pun nampak dipaksakan, BUT DAMN THOSE VISUAL AESTHETIC AND SOUNDTRACK. I know this is going to be that "so-bad-it's-good kind" of movie. Tipe-tipe yang bikin merasa "wtf ini film apaan sih" tapi ketagihan untuk menontonnya berkali-kali (dan tetap bisa dibikin terpukau).

Seriously. How can I say "no" to those visuals?????

So much gradient
Melihat visualnya saja, mungkin terlintas dalam benak kalau ini bukan film horor tipikal. Inilah ciri khas dari film-film besutan Dario Argento. Nggak cuma Suspiria, karya beliau yang lainnya macam Phenomena (Creepers), Deep Red, Inferno, dan lainnya itu ya paling nggak ada sesuatu yang kalau dilihat akan menimbulkan reaksi macam "ah iya seh, ini memang film-nya Dario Argento". 

Tapi bukan cuma visualnya saja yang bikin film ini berkesan sureal dan so out of there.

Jikalau ada di antara Anda-Anda yang pernah menonton film atau trailernya, pasti hapal, atau setidaknya familiar lah, dengan musiknya. Musik tema ini akan jadi semacam recurrence dalam film, menimbulkan perasaan overwhelmed pada audiens, sekaligus mengindikasikan kejadian ganjil yang akan muncul pada detik-detik selanjutnya. Misalnya, adegan saat Pat melihat bayangan aneh di jendela. Ketika musik itu terdengar, audiens akan mengantisipasi, "nah lo nah lo, ada apaan nih". Lalu terjadilah insiden itu; kepala Pat dijedokin ke jendela, sebelum dia ditusuk dan akhirnya meninggal. RIP Pat.

Curiosity kills.
Seandainya Pat tau kalo tindakannya itu berujung pada kematiannya, mungkin dia nggak akan se-kepo itu

Nggak cuma kejadian sih, tapi juga unsur-unsur yang terlibat dalam misteri di Akademi Tari Tanz. Waktu adegan Suzy yang berpapasan dengan Bibi Tukang Masak di koridor, musik itu kembali diperdengarkan. Di akhir cerita, kita akan tahu kalau Bibi ini ada sangkut pautnya dengan kejadian-kejadian yang dialami Suzy dkk.

Ya saya pikir atmosfer misterius itu hanya karena pengaruh dari penampilan si Bibi saja, ternyata bukan....

Bahkan di adegan awal pun musik ini sudah diperdengarkan, mengiringi langkah kaki Suzy keluar dari "rasa aman" bandara, menuju dunia penuh misteri yang telah menunggunya.

Saya pun tida merasa aman jika disambut dengan hujan badai begitu :/

Seperti yang telah saya tampilkeun pada screenshot pertama, Suspiria kental dengan warna-warna primer yang terkombinasi secara gradient. Warna merah kerap kali mendominasi, mungkin maksudnya untuk diasosiasikan dengan darah. Eerie, sekaligus glamor-glamor romantik begitu. Sepanjang menonton film ini, saya tidak merasa sedang menonton film horor. Malah seperti jalan-jalan di semacam rumah tua fancy yang dijadikan studio foto merangkap toko lampu yang colorful. Betulan sureal.


Oh iya, special effect-nya juga.......or lack thereof. Sepertinya karena budget ya, maka jadilah: karakter yang bersimbah darah malah kelihatan seperti habis kesiram cat tembok. Kentara artifisialnya. Tapi nggak berpengaruh banyak sih. Toh Argento sepertinya memang lebih fokus ke arah membangun suasana dan visual pada film ini.

Akting dan adegannya pun nggak kalah apaansih. Di awal adegan, Suzy memperlihatkan kecemasan yang masuk akal: sendirian di lingkungan baru, disambut dengan hujan badai, ditambah kesulitan berkomunikasi dengan sopir taksi yang beda bahasa. Tapi setelah itu.... Kalau nggak didukung sama musik latar dan efek cahaya, bisa dibilang, aktingnya tawar, setengah-setengah, terkadang lebai (terutama akting di adegan kejar-kejarannya, kenapa harus nabrak-nabrak tembok/jendela coba), menampilkan emosi yang tidak meyakinkan.

Suspiria memang bukan film horor pada umumnya. Bagi yang nggak tertarik, mungkin bakal ilfil apalagi sama beberapa adegannya. Tapi cobalah menonton, ini bisa jadi pengalaman spiritual yang memperkaya wawasan.

=====


Daftar pustaka (halah)
https://en.wikipedia.org/wiki/Suspiria
https://themoviola.wordpress.com/2013/08/30/budgeting-fear-review-of-suspiria/