Saturday, June 17, 2017

Berita Duka (Bagiku Seorang)

Alkisah, seorang anak kelas 10 SMA sedang gemar-gemarnya memotret. Berhubung ponselnya nihil kamera, dia selalu meminjam ponsel bapaknya untuk jepret-jepret. Jika di sekolah, dia numpang di ponsel temannya. Melihat ini, orangtuanya yang setengah penasaran-setengah jengkel (karena ponselnya dipinjem melulu kan) akan kesenangan baru si anak, dengan sangat pengertiannya, murah hatinya, dan suportifnya, kemudian membelikan si anak sebuah kamera poket di hari ulangtahunnya. Tak tanggung-tanggung, kamera itu adalah Fujifilm A230. Gembiralah hati si anak. Sejak saat itu, ia dan kamera peraknya menjadi tak terpisahkan, kecuali saat kamera itu harus di-charge baterenya, tentu saja.
.
.
.
.
.
.
Tapi itu cerita 8 tahun yang lalu. Sekarang, kamera itu sudah menemui ajalnya. Tiap kali tombol shutternya dipencet, bukannya menangkap gambar, malah mematikan powernya. Mau diperbaiki pun, hem, sepertinya akan lebih baik kalau saya beli kamera yang baru, yang bahkan mungkin spesifikasinya lebih bagus, dengan harga yang sama.

Meskipun demikian, bohong kalau saya tidak merasa sedih. Itulah satu-satunya kamera yang menemani perjalanan saya dalam kegiatan menangkap berbagai momen. Jelek-bagusnya saya dalam jepret-menjepret, mungkin hanya dia yang tahu. Smartphone? Ada sih, tapi keterbatasan fitur dan spesifikasinya jelasssssssssssss takkan mampu mengimbangi almarhum kamera pocket---meskipun kamera itu sendiri juga spesifikasinya nggak spektakuler amat.

Sudah ah sedihsedihnya, lebih baik saya kasih lihat semua kebaikan yang saya terima darinya.

   


   
Resinpis :'

No comments:

Post a Comment