Monday, February 29, 2016

E m o t i

Selalu merasa (sedikit) menyesal setelah mengeluarkan uneg-uneg dan emosi secara eksplisit. Itulah sebab aku lebih senang mengekspresikan diri dalam diam, berdialog sendiri dalam hati, melakukan hal-hal seperti corat-coret, bikin statement sticker atau photosticker. Running away from my emotion instead of facing it? Barangkali ya.

Ada yang bilang, orang-orang yang senang memendam perasaan itu, orang yang nggak bebas, seperti bukan menjadi dirinya sendiri.

Tapi gimana kalau sebenarnya memang itulah diri mereka? Karena, jika terlalu mengumbar perasaan, mereka malah merasa seperti orang lain?

Wednesday, February 17, 2016

Dialog Imajiner

A : Mz, kamu kapan nikah mz?

Mz : Lho, aku nunggu kamu lulus dek

A : *deg!*

Mz : Biar kamu bisa datang ke pernikahanku

A : ...oh

Mz : Sebagai mempelai wanitanya *wink*


- Y H A A A A A A A -

Friday, February 5, 2016

Crush Crush Crush

Jadi, ya, akhirnya aku tersadarkan oleh sebuah statemen :

"Having crush on someone means you only like them based on your own idea of them"

Dipikir-pikir, benar juga. Walau menyakitkan. Bukan, bukan masalah "bertepuk sebelah tangan"-nya, sih (kalau memang cuma sepihak)..... Cuma.... Ya rasanya sayang aja, karena mereka bisa saja (atau malah jelas-jelas) berbeda dari apa yang kita pikirkan tentang mereka.

Dan tertarik pada mereka karena imajinasi buatan sendiri itu..... Hm, kok bikin saya merasa bersalah ini.

Tapi mungkin normal, ya? Urutannya begitu kali, ya? Having a crush - getting to know them better - being in love ? Begitu? Atau bagaimana???

????????????????????

Tolong, saya nggak paham urusan macam begini :'