Saturday, January 14, 2017

Siapa sangka, aku bakal menelan mentah2 sumpahku untuk jauh-jauh dari yang namanya "mengkonsumsi junkfood resto cepat saji"
Sejak kecil, aku tidak dibiasakan oleh orangtuaku makan makanan junk food. Lagipula, susah menemukannya di kota kecil kampung halamanku sono. Harganya tak sepadan dengan nutrisi yang didapat pula, jadi, ya orangtuaku tidak merasa rugi sudah "mengasingkan"-ku dari makanan macam demikian.

Namun, kehidupan kuliah mengajarkanku untuk mengibarkan bendera putih terhadap junkfood. Karena akan ada saat dimana aku harus berakrab-akrab dengannya, mau tak mau, suka tak suka.

Coba pikir : kalau kau bisa hangout (baca : ngerjakan tugas kuliah bersama teman-teman) di tempat strategis, ber-ac, selalu menyediakan makanan, punya stopkontak, free wifi, dan buka 24 jam...... Tempat apa yang kau pilih?

Jawabanku : resto fastfood. Kenapa? Simak checklist di bawah ini.
  • Tempat strategis
  • Ber-ac
  • Punya stopkontak (sehingga kamu bisa numpang isi ulang batere laptop dan HP. bahkan, bisa bawa ekstender milik sendiri untuk dipakai beramai-ramai)
  • Free wifi (untung-untungan sih)
  • Selalu menyediakan makanan (meski berupa junk food dan harganya bukan main)
  • Buka 24 jam (sehingga kamu bisa nongkrong dari pagi sampai pagi lagi, walau hanya memesan segelas float atau eskrim sesekali dengan bonus tatapan dari para karyawan yang mungkin-sebenarnya-berniat-mengusirmu-namun-apa-daya)
Bukannya kami tak punya pilihan---atau ya, sepertinya kami memang tak punya pilihan. Mengerjakan tugas kelompok berarti ada resiko ribut-ribut, dan kami butuh tempat yang lebih ribut untuk ditambahi dengan keributan dari kami saat tengah malam. Dan melakukan itu di rumah teman, jelas bukan pilihan yang bijaksana. Ada keluarga dan tetangga yang membuat kami segan.

Kepada para pramusaji, terimakasih untuk tidak mengusir kami, atau lebih tepatnya sudah menahan diri untuk tidak mengusir kami.

Dan saat pulang, aku masih bisa mencium aroma ayam goreng krispi yang menempel di jaketku.


Suspiria

"Suzy, seorang gadis Amerika, jauh-jauh merantau ke Jerman untuk tinggal dan belajar Balet di Akademi Tari Tanz. Tapi siapa sangka, selain menari, Suzy (dan teman-temannya) juga mengalami berbagai kejadian aneh: belatung yang berjatuhan dari atap asrama, hilangnya beberapa murid, hingga suara langkah-langkah kaki misterius yang terdengar saat tengah malam. Ketika teman sekamarnya, Sara, menghilang, akhirnya Suzy memberanikan diri untuk menyelidiki misteri yang ada di Akademi"

Ada sesuatu yang mengusik tentang film ini, sejak saya iseng browsing Suspiria di Google Image. Saya juga sudah menyempatkan diri melihat trailernya dan apaan coba, film ini lumayan cringe-able dari segi akting dan "special effect"(or lack thereof). Beberapa eksekusi adegan dan scriptnya pun nampak dipaksakan, BUT DAMN THOSE VISUAL AESTHETIC AND SOUNDTRACK. I know this is going to be that "so-bad-it's-good kind" of movie. Tipe-tipe yang bikin merasa "wtf ini film apaan sih" tapi ketagihan untuk menontonnya berkali-kali (dan tetap bisa dibikin terpukau).

Seriously. How can I say "no" to those visuals?????

So much gradient
Melihat visualnya saja, mungkin terlintas dalam benak kalau ini bukan film horor tipikal. Inilah ciri khas dari film-film besutan Dario Argento. Nggak cuma Suspiria, karya beliau yang lainnya macam Phenomena (Creepers), Deep Red, Inferno, dan lainnya itu ya paling nggak ada sesuatu yang kalau dilihat akan menimbulkan reaksi macam "ah iya seh, ini memang film-nya Dario Argento". 

Tapi bukan cuma visualnya saja yang bikin film ini berkesan sureal dan so out of there.

Jikalau ada di antara Anda-Anda yang pernah menonton film atau trailernya, pasti hapal, atau setidaknya familiar lah, dengan musiknya. Musik tema ini akan jadi semacam recurrence dalam film, menimbulkan perasaan overwhelmed pada audiens, sekaligus mengindikasikan kejadian ganjil yang akan muncul pada detik-detik selanjutnya. Misalnya, adegan saat Pat melihat bayangan aneh di jendela. Ketika musik itu terdengar, audiens akan mengantisipasi, "nah lo nah lo, ada apaan nih". Lalu terjadilah insiden itu; kepala Pat dijedokin ke jendela, sebelum dia ditusuk dan akhirnya meninggal. RIP Pat.

Curiosity kills.
Seandainya Pat tau kalo tindakannya itu berujung pada kematiannya, mungkin dia nggak akan se-kepo itu

Nggak cuma kejadian sih, tapi juga unsur-unsur yang terlibat dalam misteri di Akademi Tari Tanz. Waktu adegan Suzy yang berpapasan dengan Bibi Tukang Masak di koridor, musik itu kembali diperdengarkan. Di akhir cerita, kita akan tahu kalau Bibi ini ada sangkut pautnya dengan kejadian-kejadian yang dialami Suzy dkk.

Ya saya pikir atmosfer misterius itu hanya karena pengaruh dari penampilan si Bibi saja, ternyata bukan....

Bahkan di adegan awal pun musik ini sudah diperdengarkan, mengiringi langkah kaki Suzy keluar dari "rasa aman" bandara, menuju dunia penuh misteri yang telah menunggunya.

Saya pun tida merasa aman jika disambut dengan hujan badai begitu :/

Seperti yang telah saya tampilkeun pada screenshot pertama, Suspiria kental dengan warna-warna primer yang terkombinasi secara gradient. Warna merah kerap kali mendominasi, mungkin maksudnya untuk diasosiasikan dengan darah. Eerie, sekaligus glamor-glamor romantik begitu. Sepanjang menonton film ini, saya tidak merasa sedang menonton film horor. Malah seperti jalan-jalan di semacam rumah tua fancy yang dijadikan studio foto merangkap toko lampu yang colorful. Betulan sureal.


Oh iya, special effect-nya juga.......or lack thereof. Sepertinya karena budget ya, maka jadilah: karakter yang bersimbah darah malah kelihatan seperti habis kesiram cat tembok. Kentara artifisialnya. Tapi nggak berpengaruh banyak sih. Toh Argento sepertinya memang lebih fokus ke arah membangun suasana dan visual pada film ini.

Akting dan adegannya pun nggak kalah apaansih. Di awal adegan, Suzy memperlihatkan kecemasan yang masuk akal: sendirian di lingkungan baru, disambut dengan hujan badai, ditambah kesulitan berkomunikasi dengan sopir taksi yang beda bahasa. Tapi setelah itu.... Kalau nggak didukung sama musik latar dan efek cahaya, bisa dibilang, aktingnya tawar, setengah-setengah, terkadang lebai (terutama akting di adegan kejar-kejarannya, kenapa harus nabrak-nabrak tembok/jendela coba), menampilkan emosi yang tidak meyakinkan.

Suspiria memang bukan film horor pada umumnya. Bagi yang nggak tertarik, mungkin bakal ilfil apalagi sama beberapa adegannya. Tapi cobalah menonton, ini bisa jadi pengalaman spiritual yang memperkaya wawasan.

=====


Daftar pustaka (halah)
https://en.wikipedia.org/wiki/Suspiria
https://themoviola.wordpress.com/2013/08/30/budgeting-fear-review-of-suspiria/