"Suzy, seorang gadis
Amerika, jauh-jauh merantau ke Jerman untuk tinggal dan belajar Balet di
Akademi Tari Tanz. Tapi siapa sangka, selain menari, Suzy (dan teman-temannya)
juga mengalami berbagai kejadian aneh: belatung yang berjatuhan dari atap asrama,
hilangnya beberapa murid, hingga suara langkah-langkah kaki misterius yang
terdengar saat tengah malam. Ketika teman sekamarnya, Sara, menghilang,
akhirnya Suzy memberanikan diri untuk menyelidiki misteri yang ada di
Akademi"
Ada sesuatu yang mengusik
tentang film ini, sejak saya iseng browsing Suspiria di Google Image. Saya juga
sudah menyempatkan diri melihat trailernya dan apaan coba, film ini lumayan
cringe-able dari segi akting dan "special effect"(or lack thereof).
Beberapa eksekusi adegan dan scriptnya pun nampak dipaksakan, BUT DAMN THOSE
VISUAL AESTHETIC AND SOUNDTRACK. I know this is going to be that
"so-bad-it's-good kind" of movie. Tipe-tipe
yang bikin merasa "wtf ini film apaan sih" tapi ketagihan untuk
menontonnya berkali-kali (dan tetap bisa dibikin terpukau).
Seriously. How can I say "no" to those
visuals?????
![]() |
| So much gradient |
Melihat visualnya saja, mungkin terlintas dalam benak
kalau ini bukan film horor tipikal. Inilah ciri khas dari film-film besutan
Dario Argento. Nggak cuma Suspiria, karya beliau yang lainnya macam Phenomena
(Creepers), Deep Red, Inferno, dan lainnya itu ya paling nggak ada sesuatu yang
kalau dilihat akan menimbulkan reaksi macam "ah iya seh, ini memang
film-nya Dario Argento".
Tapi bukan cuma visualnya saja yang bikin film ini
berkesan sureal dan so out of there.
Jikalau ada di antara Anda-Anda yang pernah menonton film
atau trailernya, pasti hapal, atau setidaknya familiar lah, dengan musiknya. Musik tema ini akan jadi
semacam recurrence dalam film, menimbulkan perasaan overwhelmed pada
audiens, sekaligus mengindikasikan kejadian ganjil yang akan muncul pada
detik-detik selanjutnya. Misalnya, adegan saat Pat melihat bayangan aneh di
jendela. Ketika musik itu terdengar, audiens akan mengantisipasi, "nah lo
nah lo, ada apaan nih". Lalu terjadilah insiden itu; kepala Pat dijedokin
ke jendela, sebelum dia ditusuk dan akhirnya meninggal. RIP Pat.
![]() |
| Curiosity kills. Seandainya Pat tau kalo tindakannya itu berujung pada kematiannya, mungkin dia nggak akan se-kepo itu |
Nggak cuma kejadian
sih, tapi juga unsur-unsur yang terlibat dalam misteri di Akademi Tari Tanz. Waktu adegan Suzy yang berpapasan dengan Bibi Tukang Masak di koridor, musik itu kembali diperdengarkan. Di akhir cerita, kita akan tahu kalau Bibi ini ada sangkut pautnya dengan kejadian-kejadian yang dialami Suzy dkk.
![]() |
| Ya saya pikir atmosfer misterius itu hanya karena pengaruh dari penampilan si Bibi saja, ternyata bukan.... |
Bahkan di adegan awal pun musik ini sudah
diperdengarkan, mengiringi langkah kaki Suzy keluar dari "rasa aman" bandara,
menuju dunia penuh misteri yang telah menunggunya.
![]() |
| Saya pun tida merasa aman jika disambut dengan hujan badai begitu :/ |
Seperti yang telah saya tampilkeun pada
screenshot pertama, Suspiria kental dengan warna-warna primer yang terkombinasi
secara gradient. Warna
merah kerap kali mendominasi, mungkin maksudnya untuk diasosiasikan dengan
darah. Eerie, sekaligus
glamor-glamor romantik begitu. Sepanjang menonton film ini, saya tidak merasa
sedang menonton film horor. Malah seperti jalan-jalan di semacam rumah tua
fancy yang dijadikan studio foto merangkap toko lampu yang colorful. Betulan
sureal.
Oh iya, special
effect-nya juga.......or lack thereof. Sepertinya karena budget ya,
maka jadilah: karakter yang bersimbah darah malah kelihatan seperti habis kesiram
cat tembok. Kentara artifisialnya. Tapi nggak berpengaruh banyak sih. Toh
Argento sepertinya memang lebih fokus ke arah membangun suasana dan visual pada
film ini.
Akting dan adegannya pun nggak kalah apaansih. Di awal
adegan, Suzy memperlihatkan kecemasan yang masuk akal: sendirian di lingkungan
baru, disambut dengan hujan badai, ditambah kesulitan berkomunikasi dengan
sopir taksi yang beda bahasa. Tapi setelah itu.... Kalau nggak didukung sama
musik latar dan efek cahaya, bisa dibilang, aktingnya tawar, setengah-setengah,
terkadang lebai (terutama akting di adegan kejar-kejarannya, kenapa harus
nabrak-nabrak tembok/jendela coba), menampilkan emosi yang tidak meyakinkan.
Suspiria memang bukan film horor pada umumnya. Bagi yang nggak
tertarik, mungkin bakal ilfil apalagi sama beberapa adegannya. Tapi cobalah
menonton, ini bisa jadi pengalaman spiritual yang memperkaya wawasan.
=====
Daftar
pustaka (halah)
https://en.wikipedia.org/wiki/Suspiria
https://themoviola.wordpress.com/2013/08/30/budgeting-fear-review-of-suspiria/





No comments:
Post a Comment